Jakarta (ANTARA) – Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT) China mengumumkan program percontohan yang mewajibkan produsen baterai daya kendaraan listrik (NEV) untuk melaporkan jejak karbon produk mereka mulai tahun 2026.
Dilaporkan Carnewschina pada Rabu waktu setempat, fase uji coba akan mengumpulkan data untuk model baterai yang representatif, dengan pelaporan lengkap diharapkan pada tahun 2027.
MIIT menekankan bahwa program percontohan ini berfokus pada pembangunan sistem daripada penegakan kepatuhan, sambil menyediakan platform yang aman bagi produsen untuk mengirimkan data dan mengoordinasikan verifikasi pihak ketiga.
Baca juga: Pasar daur ulang baterai di China diproyeksi tembus Rp2 kuadriliun
Baterai daya merupakan sumber emisi siklus hidup yang signifikan pada kendaraan energi baru, khususnya baterai lithium-ion berenergi tinggi, sementara baterai lithium besi fosfat biasanya memiliki jejak karbon yang lebih rendah.
Secara internasional, regulator seperti Uni Eropa telah mewajibkan pelaporan jejak karbon tingkat produk untuk baterai, sehingga pengukuran yang akurat dan terstandarisasi sangat penting untuk tujuan netralitas karbon domestik dan daya saing ekspor kendaraan energi baru.
Diketahui, inisiatif ini menetapkan sistem manajemen jejak karbon yang terstruktur untuk baterai daya, meliputi standar, platform data, pemantauan, verifikasi, dan evaluasi.
Baca juga: Pemasok bahan baterai litium China umumkan kenaikan harga hingga 15%
MIIT menggambarkan proyek percontohan ini sebagai proyek yang didorong oleh permintaan, sistematis, terbuka, dan terus ditingkatkan.
Perusahaan akan mengirimkan data untuk produk representatif pada tahun 2026, dengan perluasan bertahap ke semua model baterai.
Adapun perhitungan jejak karbon mencakup empat tahap siklus hidup yakni pengadaan material, pembuatan baterai, distribusi, dan daur ulang, yang dinormalisasi terhadap total keluaran energi baterai.
Baca juga: Pengamat dorong generasi muda berinovasi olah baterai bekas EV
Data aktivitas mencakup pemantauan penggunaan energi dan material selama produksi, transportasi, dan daur ulang, sementara data latar belakang mengacu pada faktor emisi karbon untuk bahan baku, sumber energi, dan komponen.
Faktor listrik regional dan sertifikat hijau dimasukkan untuk memperhitungkan variasi sumber daya listrik di seluruh Tiongkok, dan emisi selama siklus hidup baterai dihitung menggunakan siklus terukur berdasarkan standar siklus baterai nasional.
Metodologi ini memastikan pelaporan mencerminkan praktik industri domestik sekaligus tetap selaras dengan kerangka kerja penilaian siklus hidup internasional guna mendukung tujuan netralitas karbon dan daya saing ekspor kendaraan listrik.
Baca juga: EV terus tumbuh, strategi pengolahan limbah baterai harus diperhatikan
MIIT berencana untuk merangkum hasil uji coba tahun 2026, menyempurnakan standar, dan mempelajari kebijakan pendukung, berkoordinasi dengan otoritas lain, termasuk Administrasi Negara untuk Regulasi Pasar, untuk memastikan keselarasan dengan kebijakan pengelolaan karbon yang lebih luas.
Proyek percontohan ini diharapkan dapat memvalidasi alur kerja, kualitas data, dan operasional platform, dengan pelaporan lengkap yang direncanakan pada tahun 2027.
Baca juga: Pemerintah dinilai perlu susun regulasi “paspor” baterai EV
Pewarta: Adimas Raditya Fahky P
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026











