Korea Selatan (ANTARA) – Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung mengatakan bahwa China telah menyamai atau bahkan melampaui Korea Selatan dalam hal teknologi dan modal di banyak bidang. Menurutnya, perubahan ini tengah membentuk ulang dasar kerja sama ekonomi bilateral kedua negara.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara dengan China Media Group (CMG), dikutip Carnewschina, Sabtu (3/1), menjelang kunjungan resmi Lee ke China. Dalam kunjungan ini, Lee akan memimpin delegasi yang terdiri atas sekitar 200 perwakilan perusahaan Korea Selatan. Kunjungan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya persaingan industri antara kedua negara, terutama di sektor otomotif dan kendaraan listrik.
Lee menjelaskan bahwa kerja sama ekonomi China-Korea Selatan di masa lalu bersifat vertikal, di mana Korea Selatan menyediakan teknologi dan modal yang lebih maju, sementara China berkontribusi dalam bentuk tenaga kerja. Namun, menurutnya, pesatnya perkembangan China telah mengubah hubungan ini, sehingga diperlukan pendekatan kerja sama yang lebih setara dan horizontal.
Baca juga: Deretan NEV dipamerkan pada ajang WSIE 2025 di China
Lee menekankan bahwa kolaborasi ke depan sebaiknya difokuskan pada bidang-bidang maju seperti kecerdasan buatan (AI) dan industri berteknologi tinggi, yang kini semakin terkait dengan manufaktur otomotif dan pengembangan perangkat lunak kendaraan.
Sektor otomotif mencerminkan perubahan dinamika tersebut. China telah menjadi produsen dan eksportir kendaraan energi baru terbesar di dunia, sementara Korea Selatan tetap menjadi pemain penting dalam manufaktur otomotif global, elektronika daya, serta rantai pasok baterai.
Dalam beberapa tahun terakhir, produsen mobil China memperluas ekspor dan akses pasar luar negeri. Pada saat yang sama, produsen Korea Selatan masih bergantung pada China sebagai basis produksi dan pasar penjualan yang penting untuk kendaraan dan komponen.
Baca juga: Pameran otomotif Changchun di tampilkan beragam teknologi mutakhir
Rantai pasok baterai menjadi salah satu area utama persaingan sekaligus ketergantungan. Perusahaan-perusahaan China mendominasi produksi baterai lithium iron phosphate (LFP) global dan menguasai sebagian besar pemrosesan hulu lithium, kobalt, dan grafit.
Sementara itu, perusahaan Korea Selatan tetap menjadi pemasok utama baterai lithium ternary yang digunakan oleh produsen mobil global, termasuk Hyundai Motor Group, namun menghadapi persaingan yang semakin ketat dari alternatif buatan China yang berbiaya lebih rendah seiring meluasnya adopsi kendaraan listrik.
Perangkat lunak kendaraan dan sistem mengemudi cerdas juga menjadi bidang di mana batas persaingan semakin menyempit. Produsen mobil China mempercepat penerapan sistem bantuan pengemudi canggih, sistem operasi di dalam kendaraan, serta fungsi berbasis kecerdasan buatan pada model-model massal.
Baca juga: BMW integrasikan teknologi AI DeepSeek pada mobil terbarunya di China
Di sisi lain, produsen Korea Selatan meningkatkan investasi pada kendaraan berbasis perangkat lunak, riset mengemudi otonom, dan kecerdasan buatan untuk mempertahankan daya saing di pasar domestik maupun luar negeri.
Data perdagangan dan laporan industri menunjukkan bahwa ekspor kendaraan China ke Korea Selatan mengalami peningkatan. Pada saat yang sama, pemasok komponen Korea menghadapi tekanan yang semakin besar dari produsen komponen China, terutama di bidang motor listrik, elektronika daya, dan material baterai.
Meski demikian, produsen mobil Korea Selatan terus meningkatkan investasi riset dan pengembangan di bidang elektrifikasi dan kendaraan cerdas sebagai upaya untuk naik ke rantai nilai yang lebih tinggi.
Baca juga: Mobil terbang tanpa awak Chery telah terbang sejauh 80 km
Lee menegaskan bahwa China dan Korea Selatan memiliki rantai pasok industri yang sangat terintegrasi dan menekankan pentingnya menghindari konfrontasi dalam hubungan ekonomi.
Kunjungannya mencakup pertemuan dengan para pemimpin China dan perwakilan dunia usaha, dengan pembahasan yang diperkirakan mencakup kerangka kerja sama di bidang manufaktur maju, termasuk otomotif dan industri energi baru.
Kunjungan ini berlangsung pada saat kedua negara menyesuaikan strategi industri mereka di tengah meningkatnya persaingan di sektor kendaraan listrik, baterai, dan teknologi otomotif cerdas.
Baca juga: Lebih dekat dengan Shanghai, gerbang otomotif China menuju dunia
Pewarta: Pamela Sakina
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026











